Friday, August 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Bali » Tegal Sari, Ubud… Sepotong Nirwana Yang Jatuh Ke Bumi
t6

Tegal Sari, Ubud… Sepotong Nirwana Yang Jatuh Ke Bumi

Ubud, Oktober 2012

Dibalik pintu kayu ini sepotong Nirwana jatuh ke bumi. Tanah nan subur berselimut hijau hamparan tanaman padi, hangat dilintasi sang mentari. Tak pernah sepi dari suara-suara alam bagai simfoni yang menyanyikan lagu persembahan. Cericit burung bersahut-sahutan riuh rendah serupa bait-bait syukur pada setiap hari baru. Semua sejenak membuat terpaku, sesaat sebelum sebuah suara lembut sang pelayan menyapaku,

“Selamat Datang di Tegal Sari, bu”….

t3

Sambil menikmati segelas minuman selamat datang, mataku berkeliling menyapu ruangan. Tak meleset sedikit pun dari bayanganku empat bulan lalu saat memutuskan resort yang bernama "Tegal Sari Accomodation" ini sebagai tempat kami menghabiskan waktu liburan berdua, saya dan suami di Bali. Kamar yang berada di lantai dua sebuah rumah panggung ini hampir seluruh komponen eksterior maupun interiornya terbuat dari kayu. Harum dupa aromaterapi mendominasi udara ruang. Peraduan berkelambu membingkai kokoh tilam lembut diatasnya. Sprei putih dihiasi selendang batik bercorak terentang rapi siap menemani kami selama tiga hari ke depan.

t2

Aku sangat menyukai denah ruang yang hanya membagai dua ruang tidur dan balkon kamar, dipisahkan oleh sebuah pintu sorong berukuran besar yang menyatu dengan dinding kaca disisi kiri dan kanan. Dari balkon yang dilengkapi dengan sebuah tempat tidur kecil dan satu set meja kursi ini, kami bisa bersantai menikmati apa yang kemudian aku sebut dengan potongan Nirwana yang jatuh ke bumi. Pintu dan jendela yang sejatinya berfungsi sebagai dinding yang memisahkan ruang tidur dengan balkon didepan kamar, justru membuat kami seolah menyatu dengan alam tanpa batas karena bahan kaca yang digunakan membuat pandangan tak terhalang sedikit pun ke arah hamparan padi bahkan saat kami berbaring diatas peraduan sekalipun.

Rumah panggung ini istimewa, dengan jumlah unit yang hanya dua sehingga kami harus jauh-jauh hari memesannya, tempat ini benar-benar memanjakan kami dengan nuansa alam yang begitu indah. Dari balkon depan kamar maupun pintu masuk didepan tiada putus kami dikelilingi hijau tanaman, bukan hanya padi tapi juga tanaman bunga, bambu kecil sampai tanaman perdu. Dari kamar ini pula kami bisa menikmati pemandangan kolam renang yang berada di samping kamar. Kolam renang yang tak terlalu luas, namun desain nya yang begitu alami membuat kami tak bosan menikmatinya dari atas. Bila ingin berenang,  kami tanpa harus repot hanya perlu turun ke bawah dan menceburkan diri

t7

t9

Sebagaimana setapak yang menghubungkan kamar-kamar dengan front office, resort ini terhubung pula dengan jalan Monkey Forest yang berada tak jauh dibelakang resort. Melalui jalan setapak yang dirancang begitu asri dengan tanaman di kiri dan kanan, hanya sekitar lima menit kita sudah bisa menjumpai jalan besar tersebut untuk selanjutnya menelusuri jalan menikmati kesejukan dan keunikan Ubud seperti yang kami lakukan sore itu. Sambil menunggu matahari turun, kami berjalan kaki berdua, perlahan menelusuri jalan Monkey Forest sambil berbincang dan menikmati pemandangan yang tersaji. Sesekali berhenti di kios-kios kecil yang menjajakan cendera mata dan kerajinan khas Bali lalu kembali ke resort untuk menikmati tenggelamnya mentari sambil menikmati cemilan dan minuman hangat.

Di pagi dan sore hari, balkon merupakan tempat favorit kami. Secangkir teh panas bersanding dengan segelas capucinno, beberapa buku dan topik-topik favorit menemani kami duduk berbincang disitu. Sungguh tak ada gangguan, tempat yang jauh dari jalan raya dan dikelilingi sawah ini begitu tenang dan jauh dari sumber kebisingan, tamu-tamu yang menginap pun sepertinya sengaja mencari ketenangan disini, kami jarang menjumpai tamu yang membawa anak-anak. Kamar di tempat ini tidak dilengkapi dengan televisi dan kami pun sepakat untuk mengabaikan gadget kecuali untuk berkomunikasi dengan anak-anak yang berada di Jakarta.

t10

Kami menghabiskan hari dengan berbincang tentang banyak hal, kontemplasi berdua dan membangung mimpi-mimpi baru disana. Seolah melepas semua ketegangan yang kami dapat dari rutinitas kami di Jakarta. Mengisi kembali ruang yang kosong di jiwa dengan harapan harapan dan mimpi baru, merencanakan goal-goal ke depan yang akan kami bawa kembali ke Jakarta dari sini. Sedemikian menyenangkan aktivitas seperti ini hingga baru terhenti ketika hangat mentari mulai terasa panas dikulit atau gulita sudah menghalangi mata kami untuk memandang hamparan padi, saat itulah kami baru berpindah ke kamar atau keluar resort untuk berjalan-jalan.

Bali memang tak habis-habis, berkali kembali selalu menemukan tempat baru yang menarik. Namun ada satu yang selalu membuat saya rindu di Bali, kerinduan untuk kembali menikmati potongan Nirwana yang jatuh ke bumi….Tegal Sari, Ubud.

t8

 

Ubud….di penghujung Oktober  2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

7 comments

  1. Harganye berapa kakaakk??

  2. Duh, damai betul ya suasananya. Hijau, sejuk, pasti betah …

  3. aiiih,,subhanaAllah,,kyknya tentrem amat ni tempat,,kok ga dilengkapin ma harganya skalian gt mba,,

  4. widihh tenang bgt, bebas sama kemruyuknya Bali 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge