Saturday, November 17, 2018
Home » Traveling » Around The Globe » Tempat Makan dan Wisata Sejarah di Labuan
IMG_0674

Tempat Makan dan Wisata Sejarah di Labuan

Rekomendasi tempat makan dan wisata sejarah di Labuan itu sebenarnya banyak sekali. Tadinya saya pikir, pulau kecil dekat Sabah dan Kalimantan ini akan selesai dikunjungi dalam 2-3 hari. Namun kenyataannya tidak demikian, kota yang merupakan salah satu wilayah persekutuan Malaysia ini ternyata memiliki banyak tempat menarik. Meski sudah berada selama sepekan di sana, masih saja rasanya belum selesai dijelajahi.

Jika ada Sahabat Ayo Pelesiran yang bertanya, apa istimewanya Labuan, tentu akan lebih mudah dijawab dengan datang dan merasakan sendiri keistimewaan Labuan. Namun bila saya harus merangkai dalam kalimat yang sederhana tentang Labuan, maka saya akan mengatakan bahwa bila anda ingin merasakan lezatnya makanan, serunya wisata air dan keindahan laut, serta  napak tilas sebagian jejak sejarah dunia di tengah masyarakat lokal yang sangat bersahabat, maka Labuan adalah tempat yang tepat untuk itu.

Makan Enak

Ambuyat yang Sensasional

Salah satu aktivitas di Labuan adalah interaksi dengan penduduk lokal untuk mendapat info lebih jauh tentang rekomendasi tempat makan dan wisata sejarah di Labuan. Pengalaman mencicipi makanan khas mereka menjadi begitu berkesan karena keramahtamahan penduduk lokal. Mereka sangat terbuka dan informatif. Hal ini bisa dirasakan sejak pertama kami berada di Labuan yaitu di Kampung Layang-Layangan. Penduduk yang sebagian besar berasal dari etnis Melayu Brunei ini menyambut kedatangan kami dengan sangat bersahaja di Balai Rakyat.

Dengan dress code, Kampung Style, malam itu kami berkesempatan untuk hadir dalam acara ramah tamah dan makan malam bersama yang mereka sebut dengan ramah mesra. Selain memperkenalkan tentang sejarah dan kampung mereka serta budaya setempat, kami pun diperkenalkan dengan beberapa makanan khas mereka, salah satunya adalah yang mereka sebut dengan Ambuyat.

Melihat bentuk dan proses pembuatannya sejak berbentuk tepung, saya ingat makanan sejenis yang ada di Indonesia yang disebut dengan Papeda. Bahannya memang mirip yaitu dari bagian dalam batang pohon Sagu. Setelah diolah menjadi tepung, mereka menyebutnya dengan Tepung Ambolong. Menurut cerita mereka, makanan ini dahulu merupakan makanan saat zaman perang sebagai pengganti beras yang sangat sulit didapatkan.

Tepung Ambolong atau tepung sagu itu kemudian diseduh dengan air panas menjadi Ambuyat dan dimakan dengan menggunakan jepitan bambu yang digunakan sebagaimana sumpit. Teman makan Ambuyat memang beragam, didominasi dengan berbagai jenis sambal, seperti Sambal Belacan, Sambal Mangga Mempelam, Air Asam Jawa, Buah Memangan, Sayur Pucuk Ubi, Sayur Nangka yang diletakkan mengelilingi Ambuyat.

Cara makannya pun unik, Ambuyat yang mirip Papeda itu diambil sebagian demi sebagian dengan menggunakan bambu sumpit lalu dicelupkan atau dicampur dengan salah satu ragam menu di atas secara bergantian, baru kemudian di telan. Ya ditelan, bukan dikunyah, begitu saran mereka. Menurut mereka sensasi kelezatan Ambuyat memang ada di tenggorokan bukan di mulut. Unik ya!.

Saya mencoba saran mereka dan ternyata memang benar, sensasi yang dirasakan di mulut adalah lembut dan lumernya Ambuyat, sementara kehangatan Ambuyat dan pedasnya  sambal terasa ada di tenggorokan. Ssst…. sambal belacannya the best! Saya sampai tambah berulang-ulang menikmati Ambuyat malam itu.

Surganya Makanan Laut

Bagi Sahabat Ayo Pelesiran yang penikmat makanan laut alias seafood, Labuan adalah surganya. Serunya makan enak dan wisata sejarah di Labuan adalah keberadaan segala jenis makanan laut dan ragam olahannya yang ada di sini. Seafood bisa ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota, rekomendasi tempat makan enak bisa ditemukan di warung sederhana di pinggir jalan, tepi pantai dan pulau, restoran besar hingga di hotel tempat menginap.

Sebagaimana yang pernah saya tuliskan di tulisan pengantar tentang Labuan, soal kulinari saya benar-benar angkat dua jempol. Menu yang paling dominan adalah menu makanan laut seperti ikan, cumi-cumi, udang, kepiting, lobster dan kerang. Semua bahan mentah berasal dari bahan yang masih segar dan berkualitas dengan ukuran yang acapkali membuat tak sabar hendak segera menyantapnya sesaat setelah makanan dihidangkan.

Beberapa rekomendasi tempat makan dan wisata sejarah di Labuan dan sudah kami cicipi  di antaranya adalah Warung Jeliti. Warung makan yang satu ini terkenal dengan menu Asam Pedas. Uniknya semua menu makanan disajikan di atas meja dalam pinggan atau wadah-wadah yang tersusun dalam satu set yang berbentuk lingkaran, mirip dengan tempat yang digunakan untuk menyuguhkan Ambuyat.

Berbeda dengan wadah Ambuyat yang terbuat dari keramik dan berukuran kecil. Warung Jeliti menggunakan pinggan dengan ukurannya lebih besar dan terbuat dari logam. Pinggan terdiri dari enam buah wadah yang lebih kecil yang berisi menu yang berbeda. Untuk memilih menu yang ingin dinikmati, pengunjung tinggal memutar bagian atas meja.

Berbeda dengan Warung Jeliti, rekomendasi tempat makan dan wisata sejarah di labuan berikutnya adalah Mr. Crab Seafood Restoran dan Kampung Nanggalan Seafood Restoran. Keduanya memiliki konsep yang sama dengan menu utama makanan laut. Kedua restoran dibangun di tepi perairan sehingga kita bisa menikmati makanan sekaligus menikmati pemandangan.

Kedua restoran juga menyajikan menu-menu spetakuler dengan bahan mentah yang sangat berkualitas dengan ukuran yang membuat kami berdecak kagum. Ditambah pula resep andalan dan tangan chef nan berpengalaman, maka sudah bisa dipastikan kelezatan semua menunya, terbukti dari penampakan piring-piring di meja kami setelah makan yang licin bersih tiada bersisa.

Bila ingin menikmati makan malam dengan suasana yang lebih syahdu, rekomendasi tempat makan enak adalah Mawilla Yacht Club. Salah satu restoran yang menyediakan menu makanan laut dengan suasana malam di pinggir pantai yang cantik dan romantis. Apalagi bila anda sudah berada di sana menjelang senja, sambil menanti hidangan santap malam disiapkan kita bisa menikmati suasananya yang indah sekali.

Tak hanya menyajikan romansa makan malam yang indah, Mawilla Yacht Club juga menyajikan makanan masak berbahan baku makanan laut yang sedap. Saya masih ingat kelezatan rasa makanannya yang luar biasa, andaikata saya tak memikirkan kadar kolesterol yang tetap harus dijaga, hmm… bisa-bisa saya khilap menyantap semuanya tanpa pikir panjang.

Telusur Sejarah

Surrender Point dan Taman Damai

Sebagai tempat yang pernah diduduki oleh Jepang pada tahun 1942 di masa Perang Dunia II, Labuan yang oleh Jepang sempat berganti nama menjadi Pulau Maida, memiliki banyak sekali peninggalan bersejarah. Beberapa rekomendasi wisata sejarah yang sangat terkenal dan masih dikunjungi berbagai bangsa sampai saat ini, seperti Surrender Point, Peace Park dan World War II Memorial di Tanjung Batu.

Pendudukan tersebut memang tak berlangsung lama, hanya berlangsung sekitar tiga tahunan saja. Pada tanggal 10 September 1945 Jepang menandatangi surat perjanjian menyerah kalah di hadapan komandan perang Australia yang berlangsung di Pantai Layang-Layangan. Peristiwa itu menjadi catatan sejarah penting bagi Australia  namun menjadi catatan kelam buat Jepang di Labuan.

Bagaimana tidak, di satu sisi peristiwa itu adalah sebuah kemenangan bagi Australia namun sebaliknya justru merupakan sebuah kekalahan bagi Jepang. Akibat penyerahan kekuasaan tersebut, ratusan tentara Jepang yang masih tersisa di Labuan melakukan harakiri atau bunuh diri. Bagi mereka pilihan ini jauh lebih bermartabat dibanding harus menyerahkan diri pada lawan.

Bila Australia kemudian memperingati peristiwa ini dengan membangun Tugu Penyerahan Jepun atau Surrender Point Memorial di sekitar Pantai Layang-Layangan, maka Jepang pun mengambil inisiatif yang tak jauh berbeda. Beberapa tahun berselang, tepatnya pada tahun 1984, Jepang membangun tugu perdamaian yang disebut dengan Peace Park atau Taman Damai.

Taman Damai letaknya tak jauh dari Surrender Point. Pembangunan taman ini dibiayai oleh Jepang sebagai wujud permintaan maaf mereka terhadap kekejaman yang pernah dilakukan nenek moyang mereka selama pendudukan Jepang di Labuan sekaligus sebagai sebuah penghormatan kepada orang-orang yang telah mengorbankan nyawa mereka di Borneo semasa Perang Dunia II.

Berdirinya taman ini juga menjadi tanda persahabatan bagi Malaysia dan Jepang untuk mengingatkan bahwa betapa kejinya akibat yang ditimbulkan oleh perang. Di taman ini terbersit sebentuk janji bahwa perang tak boleh lagi terjadi lagi di masa yang akan datang.

World War Memorial dan Labuan War Cemetery

Kedua tempat ini berada di lokasi yang sama di daerah Tanjung Batu. Tugu Peringatan Perang Dunia II itu memang berada di tengah-tengah pemakaman tentara yang gugur saat Perang Dunia II di Labuan. Tempatnya luas, hening dan sangat asri. Ada kesan damai yang dalam sejak kaki pertama melangkah memasuki area ini.

Barisan nisan putih dengan lempeng pengenal di atasnya berbaris rapi mengisi area pemakaman. Di bawah nisan-nisan itu bersemayam 3.908 tentara yang  gugur selama Perang Dunia II di Borneo. Sebagian besar berasal dari Australia dan Britain, sementara sebagian  lainnya berasal dari Punjab Signal Corp, New Zealand, dan beberapa warga lokal Labuan.

Di salah satu sisi pemakaman terdapat bangunan yang berupa tiang-tiang berlapis bata merah yang di setiap tiangnya terdapat daftar nama-nama tentara yang dimakamkan di sana. Pengunjung bisa merinci satu per satu nama dan asal-usul mereka yang dimakamkan di sini. Rata-rata mereka gugur di masa muda, di rentang usia 25-30 tahun. Peperangan memang kejam ya. Saya miris membayangkan betapa usia selesai di masa muda karena perang.

Banyak veteran-veteran perang atau orang dari belahan dunia lain terutama Australia datang mengunjungi makam kerabat atau kenalan mereka di sini. Saat saya berada di sana pun saya melihat hal itu. Sekitar tugu pun tersebar bunga Bahkan setiap tahun, pada hari Minggu pertama di bulan November diadakan peringatan khusus di tempat ini untuk mengenang mereka yang gugur selama Perang Dunia II dan dimakamkan di sini.

Chimney Labuan, Museum Batu Arang dan Gedung Ubat

Daerah Tanjung Kubong adalah tempat di mana keberadaan tiga tapak sejarah itu berada. Lokasi ini adalah tempat wisata yang tidak boleh dilewatkan apabila Sahabat Ayo Pelesiran singgah ke Labuan. Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di sini, yaitu melihat keberadaan The Chimney  menjadi aikon kota Labuan, mengunjungi museum serta mengikuti tour tapak sejarah peradaban zaman Arang Batu.

The Chimney sendiri adalah sebuah bangunan dengan struktur cerobong bergaya Inggris setinggi 106 meter. Material penyusunnya terdiri dari batu bata merah yang telah mengalami restorasi di beberapa bagian. Untuk keperluan restorasi ini tak kurang dari 23000 batu bata merah didatangkan dari Inggris untuk mempertahankan kondisi sebagaimana aslinya.

Fungsi awal bangunan ini hingga kini masih misteri. Sempat diduga bahwa The Chimney adalah cerobong asap yang dibangun untuk tempat ventilasi udara keluar dari tungku pembakaran. Hal ini terkait dengan keberadaan penduduk di zaman lampau yang hidup di tempat ini dengan membuat tembikar atau keramik. Namun dugaan ini kemudian diragukan karena tidak ditemukan jelaga atau bekas-bekas asap pembakaran di cerobong tersebut.

Sebagian lagi memperkirakan The Chimney adalah bagian dari bangunan yang belum selesai, atau merupakan mercusuar bagi kapal-kapal yang hilir mudik di sekitar perairan. Ada pula yang mengatakan bahwa The Chimney adalah rumah lonceng yang memberi tanda pada penduduk setempat kala itu bila ada kapal yang datang atau merapat di pantai.

Namun apapun itu, hal unik dari The Chimney ini adalah meski tinggi ia tidak memiliki tulang penyangga di dalam struktur bangunannya. Kekuatan bangunan ini hingga tetap dapat tegak berdiri diperkirakan karena adanya lapisan batu bata di bawah permukaan tanah sebanyak 12 lapis. Selain itu, The Chimney berdiri di daerah batu kapur yang tanahnya memiliki kandungan kaolin atau tanah tembikar yang memberikan efek fondasi yang kuat.

Labuan Chimney Walking Trail

Bila Sahabat Ayo Pelesiran sudah sampai di Tanjung Kubong, jangan lewatkan aktivitas Labuan Chimney Walking Tour. Kita akan  menelusuri peninggalan sejarah di daerah ini dengan berjalan kaki. Konon di sini dulu adalah sebuah kota kecil atau bandar dengan kegiatan penambangan arang batu sebagai kegiatan utama. Kala itu adalah zaman British Empire yang menggunakan tenaga kerja paksa yang banyak didatangkan dari China untuk kegiatan penambangan.

Rute walking tour ini hanya sekitar 2 kilometer saja. Tak terlalu jauh sebenarnya dan tidak berjalan non stop, medannya juga relatif bersahabat. Dalam perjalanan kita akan berhenti di beberapa titik untuk melihat dan mendengarkan informasi guide. Namun disarankan, mulailah tour pada pagi hari sebelum matahari terlalu tinggi agar tidak terlalu panas terpapar dengan terik matahari. Gunakan topi dan jangan lupa membawa minuman sebagai pereda haus selama walking tour berlangsung.

Dalam rute ini kita bisa mendapatkan gambaran kehidupan zaman penambangan arang batu (sejenis batu bara). Walking tour dimulai dari tempat The Chimney atau cerobong asap kuno berada, lalu diikuti dengan kunjungan ke tapak lokasi, Gedung Ubat, Sunrise Point, Raffless Anchorage dan berakhir di Muzium Chimney. Kebayang khan dari satu perjalanan saja kita bisa menggali begitu banyak sejarah di sini.

Di tapak lokasi kita akan melihat kondisi geografis sekitar, bila kita perhatikan memang terlihat banyak sekali sisa-sisa pecahan keramik yang konon usianya sudah ratusan tahun. Di beberapa titik juga bisa kita lihat arang batu kecil-kecil menyerupai kerikil. Untuk ukuran besar dan bagaimana proses penambangannya bisa kita lihat dan pelajari lebih detail di Muzium Chimney.

Tapak sejarah yang masih terlihat utuh selain The Chimney adalah Gedung Ubat. Dari Namanya saya pikir ini adalah sisa-sisa bangunan farmasi tempat membuat obat atau bagian dari rumah sakit. Ternyata ubat di sini maksudnya adalah bahan untuk mesiu atau bahan peledak. Jadi Gedung Ubat ini dahulunya digunakan untuk meracik senjata peledak dan sekaligus penyimpanannya.

Sayang waktu yang kami miliki tak banyak, lagipula kami memulai tour sudah agak siang, maka rute yang kami tempuh hanyalah sebagian saja. Kami tak sempat mengeksplor lebih jauh Raffles Anchorage dan hanya sampai  di pinggir pantai tempat kapal-kapal kala itu berlabuh. Namun itupun sudah membuat kami jadi banyak tahu. Jadi, terbayang ya bila Sahabat Ayo Pelesiran datang ke sini dan ikut tour dengan rute penuh,  pasti akan excited sekali.

So… liburan deh ke Labuan. Nikmati keseruan tempat makan dan  wisata sejarah di Labuan, asiknya main air dan aktivitas seru lainnya.

Ayo, Pelesiran ke Labuan

[di2018]

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Perahu Larai nan aikonik

Labuan Malaysia – Yuk kenal Lebih Dekat

Labuan?! Iyaaa…, tapi ini bukan Labuan Bajo di Indonesia, tak akan ditemukan Komodo di sini. Bukan ...

5 comments

  1. Waduh. Ga kuaaat liat aneka Jenis seafoodnya. Lobsternya enak tampaknya. Btw karena Kita masih serumpun, makanannya Ada yg mirip2 kayak Ambuyat. Walau secara cita rasa beda.

    Terus tempat makannya lucu ya dari aluminum. Terus Ada tempat2 buat kondimen Dan lauknya. Inget jaman kecil dulu deh

  2. Keren bgt ya labuan. Ak g pernah tau labuan klo g baca disini.
    Labuan pinggir laut sih ya pasti seafoodnya macem2, mungkin blm semua makanan seafoodnya mba donnna coba y

  3. Mba Don, lengkap amat tukisan soal Labuannya. Semua lini ada, mulai dari makanan, sejarah, tempat menginap. Bagus banget tulisannya 🙂

  4. Aduh itu kepitingnyaaaaa, mana bisa nolak ditawari kuliner lezat begituuu~

    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

  5. Pengin nyobain makan ambuyat. Kayaknya mantap tuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge