Saturday, December 15, 2018
Home » Traveling » Jejak Langkah di Raja Ampat
Tope View of Pyainemo
Tope View of Pyainemo

Jejak Langkah di Raja Ampat

Raja Ampat adalah satu destinasi wisata Indonesia yang masuk dalam daftar tempat yang harus saya datangi. Keindahan bawah laut, kecantikan alam, keramahtamahan penduduk lokal, serta kekayaan budaya dan kulinernya menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi saya. Sedemikian memesonanya Raja Ampat tak heran bila tempat wisata ini mendapat peringkat nomer satu wisata bahari terbaik dan terindah di Indonesia versi Kementrian Pariwisata Indonesia.

Kesempatan untuk memenuhi impian saya menjejak di Raja Ampat datang bersamaan dengan kegiatan Kelas Inspirasi Raja Ampat. Kebiasaan saya melakukan perjalanan sambil melakukan kegiatan kerelawanan membuat saya memutuskan untuk mendaftar dan bertandang ke Raja Ampat pada bulan Juli 2018 lalu. Setelah janjian dengan dua Indra dan Bambang mengenai rencana liburan bareng, maka diputuskanlah kami akan berada di sana dari tanggal 20-28 Juli 2018.Screenshot_2018-07-29-13-30-55-87

Terbang Melintasi Waktu

Dari Jakarta tempat saya tinggal di bagian Barat Indonesia, sesungguhnya Raja Ampat di Papua sana berada nun jauh di bagian timur. Untuk itulah maka pesawat adalah satu-satunya alat transportasi yang memungkinkan saya bisa tiba di sana dalam waktu cepat. Dari situs pemesanan tiket online (OTA) seperti pegipegi.com, sebenarnya banyak penerbangan yang bisa kita pilih. Namun karena tak ada bandar udara di Kabupaten Raja Ampat, maka untuk ke Raja Ampat kita akan terbang ke bandara terdekat  terlebih dahulu yaitu di Sorong.

Pilihan penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng (CGK) ke bandara Domine Eduard Osok (SOQ) lumayan banyak. Dari situs pegipegi.com setidaknya ada 3 maskapai yang melayani penerbangan ke Sorong yaitu Garuda Indonesia, Batik Air dan Sriwijaya Air. Di bagian atas tertera harga beberapa hari lain sebagai perbandingan. Dengan menu filter di pegipegi.com kita bisa mempersempit ruang pencarian sesuai dengan maskapai, waktu terbang, harga serta apakah kita ingin terbang langsung atau transit.

Dengan pertimbangan waktu tempuh yang cukup panjang yaitu sekitar 4 jam dan tak banyak hal yang bisa dilakukan selama penerbangan, maka saya lebih memilih penerbangan langsung tanpa transit menggunakan waktu tidur saya malam hari. Ada dua maskapai yang melayani rute penerbangan langsung antara CGK-SOQ yaitu Batik Air dan Garuda Indonesia. Nah karena kebetulan pula waktu itu sedang ada promo dari Garuda Indonesia, jadi hemat deh penerbangan saya ke Sorong yang hanya 2,8 rupiah pergi dan pulang.

Yenbuba Village
Yenbuba Village

Saya tak sendirian terbang ke Sorong, melainkan dengan Indra dari Lampung yang sudah jauh-jauh hari merencanakan liburan bersama ke Raja Ampat. Bambang, salah satu teman kami dari Sumbawa juga akan bergabung dengan kami sekalian melakukan kegiatan relawannya dengan teman-teman relawan lainnya di Raja Ampat. Kami bertiga sempat bersama-sama di Sorong dan Waisai sebelum kemudian ditempatkan di lokasi mengajar yang berbeda, Saya di Kampung Yenbuba, Indra di Sawingrai dan Bambang di Arborek.

Sorong Bukan Sekedar Singgah

Meski Sorong adalah kota transit sebelum kami beranjak ke destinasi yang sesungguhnya di pulau-pulau yang berada di Kabupaten Raja Ampat, namun dengan sengaja berada beberapa hari di kota ini baik ketika datang dari Jakarta maupun saat hendak kembali ke Jakarta membuat saya sempat mengenal sudut-sudut kota ini. Banyak tempat yang bisa kita datangi dan ragam aktivitas yang kita bisa lakukan baik sudut-sudut kota maupun ragam kulinernya.

Gua Jepang di Pulau Doom
Gua Jepang di Pulau Doom

Sebutlah Pulau Doom yang sangat asik dikunjungi saat sore tiba. Untuk ke tempat ini kita hanya perlu menyeberang selama 5 menit saja dengan menggunakan perahu. Pulau ini sarat dengan wisata sejarah baik saat zaman Belanda berkuasa atau saat penjajahan Jepang. Berkeliling pulau dan melihat setiap  sudutnya sambil berinteraksi dengan penduduknya yang ramah adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya yang terkadang bosan dengan hiruk pikuk kota.

Bila anda berkunjung ke Sorong, luangkanlah waktu seharian untuk menelusuri pesisir pantainya yang indah dari ujung ke ujung ke arah Tanjung Kasuari, seperti Pantai Mooi, Pantai Soaku dan Pantai Tanjung Kasuari. Setiap pantai memberikan sensasi tersendiri, dari yang sudah mendapat sentuhan modern seperti Pantai Moooi, atau yang masih alami seperti Pantai Soako, dan Pantai Tanjung Kasuari yang dikelola oleh penduduk lokal.

Sedangkan soal wisata kuliner, ada tiga yang lekat dalam ingatan saya tentang Sorong, yaitu cilok yang enak banget di Pasar Boswesen, segarnya ikan dan ragam makanan laut, serta kopi Sorong yang sedap aduhai. Kalian kalau ke Sorong pastikan mencicipi itu semua ya. Asli deh itu cilok, ikannya kerasa banget dan terasa ikan segar, bukan ikan yang berkali-kali mati seperti cilok di Jakarta yang kental dengan rasa vetsin. Oh ya, dan jangan lupa bawa oleh-oleh Kopi Senang khas Sorong sebagai buah tangan ya.

Welcome to Waisai
Welcome to Waisai

Waisai dan Enam Sekawan

Saya akhirnya paham mengapa ongkos untuk menikmati keindahan Raja Ampat ini mahal, terutama buat orang seperti saya yang tinggal di bagian barat Indonesia. Bayangan saja, dari Jakarta kami harus terbang ke Sorong, dari Sorong perjalanan di lanjutkan dengan menggunakan kapal feri ke Waisai. Dari Waisai kita harus menyewa boat untuk ke pulau-pulau berpenghuni yang menyediakan homestay untuk tempat tinggal, baru deh hopping island untuk pulau-pulau di sekitarnya, entah itu untuk sekadar singgah, snorkeling atau diving.

Sayang banget karena urusan kantor yang mendadak, Bembi justru gak bisa ikutan mengeksplor Raja Ampat. Setelah kegiatan volunteering selesai ia harus kembali ke Sumbawa. Uniknya, rencana keliling Raja Ampat yang tadinya hanya akan dilakukan bertiga justru jadi berenam dengan bergabungnya Panji, Shinta, Imel dan Rizal. Mereka masih punya waktu untuk mengeksplore Raja Ampat sebelum kembali ke kota masing-masing. Rizal dari Sulawesi, Imel dari Singapore, Panji dan Shinta seperti aku dari Jakarta.

Meski akan terasa lebih lengkap bila ada Bambang, namun perjalanan kami berenam sungguh membawa kenangan yang tak terlupakan hingga saat ini. Kami pun beruntung banget, rencana eksplore Raja Ampat yang tadinya akan dilakukan secara go show dengan konsekuensi menerima apapun yang terjadi, akhirnya menjadi perjalanan yang begitu menyenangkan. Secara kebetulan kedatangan kami di Raja Ampat bersamaan dengan dilaksanakannya kegiatan Festival Geopark Raja Ampat dan Torch Relay api obor Asian Games 2018.

Begitu mendapatkan infonya lebih lanjut tentang kedua acara tersebut, Indra segera menghubungi salah satu pihak pendukung acara yaitu Kamar Raja Home Stay untuk ikut serta di Festival Geopark Raja Ampat. Singkat cerita, selesai dari kegiatan Kelas Inspirasi di pulau masing-masing, kami berpisah dengan teman-teman relawan lain dan kembali ke Waisai untuk bergabung bersama Kamar Raja Homestay keesokan harinya. Seru khan, kami tak perlu repot lagi memikirkan urusan transportasi apa,  penginapan, makanan, bahkan kami diajak ke tempat-tempat keren yang tadinya tak termasuk dalam rencana perjalanan kami.

Kami Berenam
Kami Berenam

Mengukir Jejak di Raja Ampat

  • Festival Geopark Raja Ampat

Oh ya, Festival Geoprak Raja Ampat Tahun 2018 ini adalah event yang digelar secara resmi untuk yang pertama kalinya di Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari yaitu tanggal 25-27 Juli 2018. Festival ini buatku seru banget karena peserta diajakn untuk melihat kekayaan alam sekaligus memperkenalkan budaya dan kuliner yang ada di Raja Ampat. Serunya lagi, Festival Geopark ini juga bersamaan dengan Torch Relay Obor Asian Games 2018 yang acara puncaknya akan dilaksanakan di Top View Pulau Karang Pyainemo. Keren khan

Pembukaan festival dilaksanakan di Pantai WTC –Waisai Torang Cinta– yang berada di tengah kota. Merupakan sebuah kehormatan bagi kami bisa duduk di barisan paling depan menyaksikan pembukaan yang berisi rangkaian acara menarik seperti sajian lagu dan tari-tarian khas Raja Ampat serta parade para pria yang memainkan suling tambur bertalu-talu hingga menghadirkan rentak yang dinamis yang mengiringi gerak langkah dan tari para wanita yang berbaris di belakangannya.  Ah, sungguh semarak.

IMG20180725133642

  • Keindahan Kalibiru dan Teluk Mayalibit

Selepas pembukaan kami beranjak menuju destinasi berikutnya yaitu tempat wisata Kalibiru dan Teluk Mayalibit berada. Kedua tempat ini memang tak terpisahkan, karena dermaga kecil yang berada di Teluk Mayalibit lah yang menjadi “pintu” masuk paling luar untuk bisa mencapai Kalibiru yang berada di dalam sana. Ya, keindahan Kalibiru memang harus dicapai dengan berperahu terlebih dahulu sampai muara, kemudian dilanjutkan dengan trekking atau berjalan kaki menembus dua hutan kecil yang diselingi dengan sungai dangkal yang lebar berbatu untuk diseberangi.

Kalibiru
Kalibiru

Namun demikian jangan khawatir, tak ada kelelahan dalam menempuhnya selain kegembiraan. Kontur daratan yang dilalui relatif rata dan setapak yang kita lalui sangat aman dan nyaman, hanya letaknya saja yang jauh ke dalam. Sepanjang jalan kita ditemani suara burung atau tonggeret yang bersahut-sahutan. Udara yang sejuk dan pemandangan yang memanjakan mata, ditambah pula obrolan sepanjang perjalanan yang diselingi dengan gurauan yang membuat perjalanan makin mengasikkan.

Makin ke dalam udara makin sejuk, nyaman sekali rasanya berada di dalam hutan kecil yang minim sinar matahari. Sejuk di hati, sejuk di badan. Yang keren ketika perjalanan kami berujung di sebuah aliran sungai yang airnya begitu bening sehingga dasarnya terlihat jelas. Warnanya airnya hijau tosca dengan dasar sungai berwarna putih, kebayang khan betapa memikatnya pemandangan tempat yang bernama Kalibiru ini. Sayang saya gak bisa berenang, jadi hanya berani mencelup-celupkan kaki.

Kalibiru
Kalibiru

Area yang bisa dinikmati pengunjung sebenarnya tidaklah luas, panjang sungai yang bisa direnangi juga terbatas. Mata air yang menjadi sumber air sungai ini merupakan daerah tertutup untuk wisatawan dan dilindungi. Namun saya justru bersyukur dengan tidak dieksploitasinya daerah ini secara besar-besaran oleh penduduk setempat sehingga kondisinya masih sedemikian alami dan terjaga. Semoga masih akan tetap seperti ini ke depannya.

  • Mendaki Telaga Bintang hingga Pyainemo

Hari berikutnya perjalanan kami lanjutkan menuju Pyainemo yangmenjadi destinasi utama kami. Namun bukan hanya itu tujuan kami, namun juga untuk menyaksikan seremoni Torch Relay Obor Asian Games yang dikawal oleh sekumpulan penyelam dan dibawa oleh Nadine Candrawinata dari perairan di Pyainemo hingga ke Top View of Pyainemo. Luas puncak yang hanya beberapa meter persegi saja tak memungkinkan seluruh pengunjung ikut naik ke atas sehingga kami cukup puas menanti di bawah sambil main ke pulau karang sebelahnya.

Telaga Bintang
Telaga Bintang

Tempat yang semula bukan tujuan kami ini akhirnya membawa pengalaman baru yang tak kalah menarik buat kami, Telaga Bintang namanya. Puncaknya memang lebih rendah dibanding dengan puncak Pyainemo namun untuk sampai ke atas, kami harus merayapi pulau karang yang tajam di bawah sinar matahari hingga ke puncak. Ngeri-ngeri sedap sih sebenarnya, tapi temen-temen seperjalanan memang asik-asik, mereka santai saja naik ke atas membuat aku percaya diri ikutan pelan-pelan naik ke atas.

Nah di puncak pulau karang inilah baru terlihat apa yang menyebabkan tempat ini disebut dengan Telaga Bintang. Ternyata bila kita melihat ke arah laut di bawah, maka akan terlihat lekuk-lekuk pulau karang di sekitar tempat saya berada seolah menjadi garis tepi yang membentuk pola bintang. Wow! Amazing… jadi betah khan memandangnya dari ketinggian.

Tope View of Pyainemo
Tope View of Pyainemo

Tak lengkap bila ke Raja Apat tidak menyambangi Pyainemo. Pulau karang nan istimewa karena dari puncaknya kita bisa melihat gugusan pulau-pulau terhampar begitu indahnya. Berbeda dengan telaga bintang, Puncak Pyanemo bisa dicapai dengan menaiki satu per satu anak tangga yang terbuat dari kayu. Tingginya lumayan membuat ngos-ngosan, tapi percayalah semua itu terbayar lunas seketika saat kita sampai di puncaknya.

  • Friwen Beach di Penghujung Sore

Penutup perjalanan kami hari itu adalah Pantai Friwen. Mungkin bukan kebetulan bila tempat ini dijadikan tempat terakhir perjalanan kami di Raja Ampat. Setelah menempuh gelombang tinggi dan diterpa pias air laut yang memecah di dinding perahu ribuan kali selama perjalanan, Friwen seolah menjadi ending yang manis. Rasa khawatir yang muncul sesekali karena tinggi gelombang samudera yang harus kami hadapi selama perjalanan sirna di atas pasir putih selembut bedak bayi, di pantai nan landai, di bawah matahari sore dan sepiring pisang goreng panas.

Maka nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan?

IMG20180726173922 (2) 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_0674

Tempat Makan dan Wisata Sejarah di Labuan

Rekomendasi tempat makan dan wisata sejarah di Labuan itu sebenarnya banyak sekali. Tadinya saya pikir, ...

29 comments

  1. Subhanalloh indah bangeeeet..pengen cepet booking tiket deh ke sana.

  2. Kalau saya bis ake Raja Ampat kayaknya bakal cubit diri sendiri dulu. Mimpi apa bisa ke sini hehehe. Foto-foto di sini aja semakin membuat saya berharap bisa ke sana 🙂

  3. Mantaps ya Raja Ampat dengan Geoparknya. Next kalau rejeki longgar ini adalah inceran temoat yang mau aku datangin.
    gita siwi recently posted…Blogger Perempuan itu, Digitalis, Minimalis dan UndergroundMy Profile

  4. Wah ternyata ada juga ya Gua Jepang di Pulau Doom. Itu Kalibiru mempesona banget. Kita mungkin ga main air atau berenang di kali itu? Kayak bunga tidur aja nih seandainya aku bisa ke Raja Ampat. Adikku pernah sekali wisata ke sini barengan dinas kantornya sih. Kulinernya ada Cilok juga ya hehehe. Bagus banget foto2nya, mb Donna 🙂

  5. MasyaAlloh Pyainemo bagus banget mbaa. Aku pengen deh ke Raja Ampat skalian tengok temen kosku tinggal di Biak. Kalo sama Biak jauh ngga ya?

  6. Kayaknya banyak yang share cilok disana enak, jadi benern penasaran sama ciloknya

  7. Dulu ayah pernah 2 kali dikirim ke Irian (nama yg populer sebelum Papua), kalau pulang selalu cerita kalau di sana lautnya bagus de, sungainya jernih de, ayah jadi doyan makan ikan. Oh ternyata memang bener ya, sekarang banyak yg mengeksplorasi keindahannya. Jadi takjub dengan ciptaan Allah

  8. Dulu awal th 90 ayah pernah 2 kali dinas di Irian (nama populer sebelum Papua), begitu pulang banyak keunikan yang diceritakannya. Lautnya bagus banget de, pantainya bersih dan sungainya jernih de, di sana selalu dapat ikan segar, ayah jadi doyan makan ikan.

    Ternyata apa yang ayah bilang benar apa adanya ya, sekarang udah banyak yg membuktikannya melalui foto-foto ini, termasuk mbak Donna, amazing mbak, rejekimu luar biasa bisa ke sana

  9. Masya Allah Mbaaaa, indahnya luar biasa padahal cuma lihat di foto. Gak kebayang kalau bisa kesana dan menikmati sendiri keindahan Raja Ampat. Aaaaak mauuuuu

  10. MasyaAllah mba Donna indah sekali pandangan alamnya. Air di Kalibiru bener bener jernih dan terawat kebersihannya. Andaikan suatu saat aku bisa ke Raja Ampat ya, mba. Semoga saja suatu saat bisa. Amin

  11. Jadi mupeng nih mbak buat traveling kesana.
    Apalagi perginya bareng keluarga pasti lebih seru dan mengesankan. Air Kalibirunya membuatku pengen nyebur

  12. Masya Allah cantik banget mbak pemandangannya. Bersyukur banget mbak Donna bisa punya kesempatan mengunjungi Raja Ampat. Aku travelling paling jauh ke pulau Tual mbak, masih bagian dari Kep Maluku dan itu juga cantik banget pantainya. Semoga suatu hari nanti bisa menjejakkan kaki di Raja Ampat. Aamiin.
    Atisatya Arifin recently posted…Alasan Bergabung di Blogger Perempuan Network – BPN 30 Day Blog Challenge (Day 4)My Profile

  13. Indah banget Raja Ampat semoga ada kesempatan ke sana aamiin
    Dedew recently posted…Wonderful Indonesia, Mengintip Museum Pusaka di Keraton Kasepuhan CirebonMy Profile

  14. wah sampe mendaki telaga bintang juga ya kak… aku pengin kesana juga… #jejakbiru

  15. Seru banget mbak. Sambil ikut kelas inspirasi, sambil jalan2, eh pas banget pas ada even pariwisata setempat.
    Lihat foto2nya bikin pengen sesegera mungkin ke Raja Ampat. Btw, mbak Donna dpt tiket murah yaaa. Aku pikir tiket ke sana mahal2 euy.
    dinilint recently posted…Aku dan Social Media – BPN 30 Days Blog ChallengeMy Profile

  16. Duh sumpah ya. pemandangan membius mata dan hati banget
    Kapan ya bisa ke Raja Ampat juga
    Btw mbak Donna asik banget pas dapat tiket promo gitu

  17. Pengen berenang di Kalibiru lalu foto2.

  18. Duh raja ampat… meski jauh dan mahal, tapi memang seru banget ya…

  19. Masya Allah indahnya ya,, duh pengen kesana huhuhu doakan aku ya mba Donna semoga bisa secepatnya kesana.

  20. Subhanallah indahnya Raja Ampat mba Donna. Coba dulu diajakin temen kesana jadi ya, bisa menikmati alam yang indah disana. Pengen ah kesana, kali aja ada yang ngajakin lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge