Tuesday, August 22, 2017
Home » Review and Event » Terdampar di Sate Kelapa Indomohen Surabaya
Jpeg
Jpeg

Terdampar di Sate Kelapa Indomohen Surabaya

Judul tulisan ini sengaja dibuat dengan menggunakan kata terdampar, karena memang begitulah adanya. Hampir jam tujuh malam saat kami meninggalkan House of Sampoerna setelah mengikuti napak tilas Babad Surabaya bersama Sampoerna Heritage Tour. Dalam perjalanan kembali ke Swiss Bellinn Hotel di daerah Manyar, kami sepertinya mengambil jalan yang salah.  Namun kesalahan mengambil rute pulang justru membawa saya dan Nicholas ke Jalan Walikota Mustajab tempat warung sate yang terkenal itu berada.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Begitulah kira-kira peribahasa yang tepat untuk menggambarkan situasi malam ini. Perut juga sudah mulai terasa lapar dan beberapa kali berpikir, alangkah senangnya bila kami bisa mencicipi Sate Kelapa Indomohen, namun karena tak satu pun diantara kami yang mengenal baik rute jalan menuju tempat tersebut, maka saya pun menekan keinginan untuk mencari. Namun rezeki memang sudah ada jalannya sendiri, rute yang salah tersebut justru melewati Warung Sate Kelapa Indomohen. Alhamdulillah, kami pun singgah.

Situasi cukup ramai kala itu, menandakan bahwa tempat makan ini adalah salah satu tempat makanan favorit di Surabaya. Sebenarnya sejak kemarin saya sudah mendengar cerita tentang Sate Kelapa ini dari Christa yang tinggal di Surabaya, jadi tak heran bila pengunjungnya ramai silih berganti. Asap dari tempat membakar sate tak putus-putusnya mengepul, seiring dengan dua perempuan yang tangannya tak berhenti mengipasi tusukan-tusukan sate yang berbaris rapi di atas panggangan. sementara dua perempuan lainnya tak kalah sibuk menyiapkan nasi dan potongan-potongan lontong, menempatkan di atas piring bersama sate yang sudah masak lalu menghidangkannya.

Sate kelapa itu ternyata sate yang dilumuri kelapa
Sate kelapa itu ternyata sate yang dilumuri kelapa

Tadinya saya pikir Sate Kelapa itu adalah sate yang terbuat dari olahan buah kelapa. Namun ternyata sate ini adalah sate daging sapi yang sudah dibumbui, digeprek seperti daging gepuk lalu disusun di tiap-tiap tusukan sate dari bambu. Kemudian sate mentah ini dilumuri dengan parutan kelapa lalu dibakar seperti sate pada umumnya. Bumbunya terbuat dari bumbu kacang, dilengkapi dengan sambal berupa cabai utuh yang telah direbus dan irisan bawang merah.

Saya dan Nicholas memilih untuk menikmati sate kelapa bersama lontong yang disajikan bersama sejumput serundeng di sudut piring. Dagingnya terasa empuk, mirip gepuk.  Lumuran parutan kelapa dan bumbu yang meresap pada daging membuat cita rasa daging terasa gurih saat dikunyah. Pembeli bisa memilih untuk sate yang hanya terdiri dari potongan daging sapi saja atau disisipi dengan daging yang berlemak atau bergajih.

Tak hanya cita rasa pada daging yang terasa istimewa, begitu juga bumbu kacangnya. Saya tak tahu campuran apa yang ditambahkan pada bumbu tersebut hingga bisa gurih berminyak. Kombinasi antara gurihnya kacang dan kelapa serta rasa manis dari kecap berpadu sempurna di lidah. Saya yang tak pandai memasak ini menduga bisa kenikmatan bumbu tersebut karena adanya campuran kacang mete atau serundeng kelapa yang ikut digiling bersama kacang. Entahlah, saya tak tahu pasti. Yang pasti, hampir setiap malam, penjual menyediakan tak kurang dari 11o kg daging sapi yang selalu ludes terjual sebelum tengah malam tiba. Luar biasa bukan? Mengapa bisa sedemikian istimewa, pembaca harus mencobanya sendiri. Harganya sangat pantas dengan kelezatannya. Hanya dengan Rp. 22.000 seporsi, kita bisa menikmati sepuluh tusuk Sate Kelapa Indomohen. Yuk kesana…

Penampilan Sate Kelapa yang biasa dengan rasa luar biasa
Penampilan Sate Kelapa yang biasa dengan rasa luar biasa

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

The Passport @donnaimelda

The Passport – Tempat Hangout Favorit di Gading Serpong

Bukan sekali ini saya mampir ke The Passport, tempat hangout favorit saya di Gading Serpong. ...

12 comments

  1. Masih lebih murah dari sate kerbau ya harganya. Di Kudus sate kerbau yang saya cicipin harganya hampir dua kali lipat hehehe

  2. Harganya ternyata ngga begitu mahal ya sate sapi. Jauh lebih murah dari sate kerbau yang saya cicipin di Kudus

  3. Ini memang sate yang melegenda mbak, rame banget pengunjungnya, bisa dilihat dari foto2 orang penting yang dipakang ditembok2nya 🙂 Jangan lupa mampir juga di warung ampel yang tak jauh dari situ untuk mencoba nasi kebuli, enak banget

  4. Wiiihh…sedep banget mbak keknya…
    belum pernah nyobain sate yg di lumuri parutan klapa gitu, tapi keknya sedep secara kelapa gurih gitu ya…

  5. wah sepertinya enak juga tuh , jadi pengen coba

  6. kitain betul2 dari kelapa..ternyta tetap ada dagingnya ya

  7. Wahh..dagingnya pasti gurih..karna cita rasa dari buah kelapa. Kuliner yg unik jadi pengen cicipin

  8. Wah…rasa satenya pasti gurih karena cita rasa dari kelapa. Kuliner yang unik jadi pengen cicipin

  9. Ondelomohen guten morgan, kalo ke sekitar sini sukanya lemper raksasa 😉

  10. Aaaakkkkk….nanti kalau ke Surabaya aku mauk cobak! Walaupun nggak gitu suka sate daging, tetep aja pengen nyiciip. Harga juga nggak mahal amat deh ya, Mak 😀

  11. hmmm … enak kayaknya, kelapanya itu yg bikin gurih, ya

  12. Ini yak yang katanya rame dan enak itu, 22 ribu seporsi murah sih yak, sate daging kambing juga segituan deh
    Alid Abdul recently posted…Suatu Pagi di BangaloreMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge