Wednesday, June 28, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Rentak Selangor di Antara Kuda Kepang dan Kerling Tarian Singa
donna imelda for rentak selangor

Rentak Selangor di Antara Kuda Kepang dan Kerling Tarian Singa

Lain Kuda Kepang, lain pula Tarian Singa. Mereka berakar dari dua negeri yang berbeda dan berjauhan pula. Lalu bagaimana kesenian ini bisa lebur dan menjadi budaya di Selangor? Setelah bercerita tentang Gamelan, Wayang Kulit dan Kompang Jawa di tulisan saya yang pertama di sini, saya mencoba melanjutkan cerita serial perjalanan saya di #RentakSelangor, The Breathing Pulse of Our Land tentang Kuda Kepang dan Tarian Singa yang merupakan program wisata budaya yang diorganisir oleh Selangor Youth Generation Development Sports, Culture and Entrepreneurship Development, UPEN Selangor berkolaborasi dengan Gaya Travel Magazine

donna imelda for rentak selangor

  • Kuda Kepang, The Night of Mystical Trance

Di Indonesia Kuda Kepang lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping atau Jaran Kepang. Kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Pulau Jawa yang menggambarkan pasukan berkuda. Namun tentu saja kuda yang digunakan bukanlah kuda yang sesungguhnya melainkan terbuat dari anyaman bambu, kulit lembu atau sejenis kayu yang dibuat menyerupai kuda. Kuda kepang dimainkan dengan tarian yang diringi alat musik gamelan yang terdiri dari Sirin, Gong, Bonang, serta Gendang.

Permainan ini melibatkan banyak pemain, jumlahnya belasan bahkan hingga puluhan orang. Mereka terdiri dari pemain musik, penari, pasukan berkuda (bisa sekaligus sebagai penari) dan seorang pawang yang bertugas mengendalikan jalannya permainan Kuda Kepang. Jalannya permainan dibantu oleh seorang yang membunyikan pecut untuk mengawal, memberikan aba-aba atau mengarahkan jalannya permainan. Itulah mengapa permainan ini biasanya lebih sering dilakukan di tempat yang luas dan terbuka karena harus dapat menampung banyaknya pemain dan memberi ruang gerak yang leluasa bagi pemain.

Sebelum kami menyaksikan permainan Kuda Kepang pada malam hari, kami mengikuti workshop singkat mengenai Kuda Kepang di teras Homestay Hj. Dorani di siang harinya. Sebagaimana dijelaskan di awal tulisan ini, #RentakSelangor 2.0 ini memang banyak mengangkat kesenian Selangor yang berasal dari Pulau Jawa, termasuk Kuda Kepang ini. Begitu juga yang dijelaskan oleh Wak Rusli yang menjadi pimpinan rombongan Kuda Kepang Seni Warisan Kuda Kepang Parit 15 Sungai Panjang Besar, Selangor, Malaysia.

Wak Rusli mengatakan bahwa permainan ini telah dilakukan dari generasi ke generasi, bahkan beliau sudah melakukan permainan ini sejak beliau berumur 18 tahun. Kini tercatat sudah ada sekitar 25 perkumpulan Kuda Kepang di Selangor, salah satunya adalah kelompok yang beliau pimpin. Namun memang ada sedikit perbedaan dengan Kuda Kepang di tempat asalnya di Pulau Jawa, di Selangor permainan ini sudah lebih disederhanakan baik jumlah pemainnya juga dengan jenis permainannya dengan menghilangkan beberapa unsur yang sering membuat ramai pentonton seperti saat trance, pemain tidak lagi mengejar-ngejar penonton yang berpakaian dengan warna tertentu.

Sejujurnya, meski permainan ini berasa dari Indonesia, selama ini saya belum pernah dengan sengaja menonton sampai tuntas. Selain karena takut dikejar-kejar, selama ini atraksi yang ditampilkan terlalu ekstrim menurut ukuran saya. Agak ngeri melihat orang dalam keadaan trance, berteriak-teriak dan memakan pecahan kaca. Belum lagi kalau tiba-tiba mereka merangsek ke arah penonton, saya takut akan menjadi salah satu yang terkena sasarannya. Namun di #RentakSelangor, Wak Rusli telah mengatakan bahwa hal yang saya khawatirkan tidak akan terjadi, meski pemain tetap akan mengalami trance.

Permainan pun dilakukan saat malam hari, Wak Rusli mengawali dengan “membersihkan” area permainan dan “memagari” arena di empat penjuru. Permainan ini memang sarat dengan aroma mistis, ditambah pula malam itu bulan purnama sebagian tertutup mega, membuat suasana bertambah remang. Di tengah arena terlihat sejumlah sesaji yang disiapkan di atas sebuah tampah, serupa pinggan yang terbuat dari anyaman bambu. Di atasnya diletakkan sebuah cemeti bersama satu sisir Pisang, Kelapa Hijau, Kembang 7 Rupa, telur dan seikat Padi.

Di sudut lain, seperangkat alat musik berupa gamelan, gendang dan gong pun telah disiapkan untuk mengiringi penari dan akan dibunyikan sepanjang permainan. Ada delapan Kuda Kepang yang telah siap di tengah arena, enam berupa Kuda Kepang berwarna merah dan dua berupa Kuda Kepang berwarna putih. Kuda-Kuda ini menyimbolkan sebuah pasukan berkuda dimana kuda putih mewakili sebagai kepala pasukan dan kuda merah adalah pasukannya.

Serangkaian ritual pun turut dilakukan oleh seluruh pemain. Setelah Wak Rusli mengasapi alat-alat permainan seperti topeng karakter dan barongan dengan dupa, para pemain pun rapi berbaris mengantri giliran untuk mengasapi dirinya dengan asap dupa yang telah disiapkan oleh Wak Rusli sebagai ketua rombongan. Uniknya, dalam pertunjukan malam itu, tiga orang dari rombongan blogger dan media diajak turut serta dalam permainan dan larut di dalamnya, entah karena terbawa suasana dan atau ikut mengalami trance dalam porsi ringan hehehe.

donna imelda for rentak selangor
Meremang

Beberapa dari mereka yang mengalami trance berasal dari anggota rombongan penari, dan saat trance berperilaku seperti kera atau ular. Mereka berteriak, berlari, meloncat bahkan memanjat Pohon Kelapa yang ada di sekitar arena, memetik buahnya dan mengupas kelapa muda yang mereka petik dengan giginya, bahkan kemudian mereka memecahkan kelapa yang telah terkupas tersebut dengan kepalanya. Sungguh saya takjub dengan mereka yang seolah mendapat kekuatan fisik berlipat ganda secara gaib. Tatapan mata mereka sesekali kosong, sesekali menatap nyalang. Sedikit menakutkan tapi membuat penasaran.

Saya sungguh tak menyangka, bahwa Wak Rusli ternyata kemudian juga mengalami trance dan malam itu sibuk “berlaga” dengan makhluk gaib pengganggu yang ada di sekitar arena. Seru juga menyimak bagaimana Wak Rusli mondar mandir dari dan ke tengah arena mengusir roh jahat tersebut, ada yang tersembunyi di bawah jembatan, ada pula yang tersembunyi di balik semak di pojokan halaman bahkan di pucuk pohon Kelapa. Sepanjang pertunjukkan tak sekejap saya melepas pandangan meski hanya berani dari kejauhan, sungguh saya penasaran dengan apa yang diperbuat oleh setiap pemain malam itu.

Di akhir pertunjukan yang berlangsung kurang lebih dua jam lamanya tersebut, Wak Rusli pun melepaskan kekuatan gaib satu per satu pemain yang mengalami trance untuk kembali normal. Sementara Wak Rusli sendiri harus dibantu oleh anak perempuannya untuk kembali normal. Uniknya ketika permainan usai dan saya bertanya pada pemain yang mengalami trance apakah mereka mengalami luka, sakit atau keseleo, jawaban mereka ternyata tidak. Mereka benar-benar pulih sebagaimana manusia normal. Waw!

Kalian mau coba mengalamai trance? Kalau saya sih, nggak deh xixixixi

  • Kerlingan Genit Tarian Singa

Bila Kuda Kepang sarat dengan unsur mistis, Tarian Singa lebih terkesan sporty dengan gerakan-gerakannya yang akrobatik. Bahkan Tarian Singa yang di Indonesia lebih dikenal dengan Barongsai ini seringkali terlihat centil dan mengemaskan saat perform, apalagi dengan kostum Singa berwarna cerah yang mereka gunakan. Coba deh lihat ekspresi saat mereka tampil, matanya berkedip-kedip lucu, dan itu adalah bagian yang paling menarik buat saya untuk dinikmati. Apalagi sambil menari dan melompat dari satu tiang ke tiang lainya yang tingginya bisa mencapai beberapa meter. Wow!

Beruntung saya bisa menelisik lebih jauh tentang Tarian Singa ini di Shah Alam, Selangor. #RentakSelangor memfasilitasi kami untuk berjumpa dengan Master Siow Ho Phiew, tokoh terkenal bertaraf internasional dengan kiprah dan konsistensinya terhadap kesenian Tarian Singa selama lebih dari tiga puluh tahun. Ditemui di ruko di daerah Subang 2 Shah Alam yang sekaligus menjadi bengkel kerja pembuatan kepala Tarian Singa, beliau dengan senang hati bercerita pada kami tentang perjalanan Tarian Singa di Malaysia dan Selangor pada khususnya.

Kepala Singa yang dibuat Master Siow memang sudah terkenal ke seantero dunia, bahkan sambil berseloroh beliau mengatakan tak ada yang tak mengenal dirinya bila sudah bicara tentang Tarian Singa, tak hanya Asia namun juga hingga ke Eropa dan Amerika. Bahkan Indonesia sendiri sudah mendatangkan Kepala Singa dari Selangor sejak puluhan tahun lalu meski Tarian Singa atau Barongsai saat itu masih dilarang dimainkan. Beruntung sekarang kita yang tinggal di Indonesia bisa menyaksikannya kembali pertunjukan kesenian dari negeri Tiongkok tersebut. Master Siow sampai pernah tertangkap lho di Padang karena membawa Kepala Singa ini hehehe.

Beliau bercerita bahwa ia telah memodifikasi Kepala Singa supaya lebih ringan saat dipakai dan lebih baik kualitasnya. Untuk menghasilkan Kepala Singa yang lebih kokoh dan tahan lama, Master Siow ia membuat rangka bagian dalam Kepala Singa dengan aluminium dan logam, bukan dengan bambu sebagaimana di negeri asalnya di Tiongkok. Penggunaan rotan membuat Kepala Singa lebih fleksibel saat dibentuk dan lebih kuat. Rotan dan aluminium juga tidak gampang patah seperti bambu sehingga lebih aman saat digunakan. Bambu lebih mudah patah dan rapuh dimakan serangga. Uniknya, kini Cina pun membeli Kepala Singa dari Mister Siow. Di Malaysia, Kepala Singa ini dijual dengan harga sekitar RM 2000 – RM. 3000 satu unitnya.

Bukan hanya Kepala Singa saja yang dimodifikasi, musik yang mengiringi Tarian Singa ini pun sudah tak sama persis dengan negara asalnya. Tak trak tak tak, tak trak tak tak, trak tak tak, trak tak tak, begitu salah satu ritme musik yang diperagakan Mister Siow yang kemudian dengan senang hati kami ikuti beramai-ramai. Ternyata rentaknya mengasikkan untuk diikuti. Satu set peralatan musik untuk Tarian Singa terdiri dari cymbal, gong, dan drum sehingga jumlah pemain yang dibutuhkan untuk satu kali pertunjukkan juga tak sedikit, bisa belasan hingga puluhan pemain sekali pertunjukan.

Di serikat Wan Seng Hang Dragon and Lion Arts yang dipimpin Mister Siow dan telah ada sejak tahun 1986, dan memimpin 47 kumpulan Tarian Singa, hebat khan! Satu grup bisa beranggotakan puluhan orang, pemainnya sebagian besar masih berusia muda dan bahkan masih usia sekolah, mereka latihan di sela-sela kegiatan sekolah mereka sebanyak tiga kali dalam seminggu, setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Rata-rata berasal dari etnis Cina dan India dan didominasi oleh jenis kelamin lelaki. Mungkin karena permainan ini membutuhkan fisik yang kuat dan latihan serta disiplin yang kuat juga.

Wan Seng Hang terus eksis dari generasi ke generasi hingga saat ini sudah mencapai generasi 4, 5, dan 6. Generasi satu dan dua memang sudah tak ada, dahulu dibawa dari Cina Selatan namun mereka tinggal dan menetap di Singapore, generasi ketiga lah yang mengajar Tarian Singa di Selangor hingga kini turun menurun ke generasi 4,5,6. Bila di asalnya merupakan suatu kegiatan untuk mengusir roh jahat, namun kini Tarian Singa adalah kegiatan yang memadukan kegiatan seni dan olahraga, tak ada unsur agama di dalamnya. Namun meski terlihat fun dan seru, untuk menjadi pemain Tarian Singa haruslah mereka yang memiliki minat yang sangat kuat, mau disiplin dan berupaya. Banyak yang mendaftar namun banyak pula yang keluar setelah beberapa kali latihan karena tidak tahan.

Nah, bagaimana? Mau jadi pemain Tarian Singa?

Jangan lupa ya beri kerlingan nakal dan manja setelah berhasil melompat hehehe

donna imelda for rentak selangor

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

5 comments

  1. Kayaknya kalau disana saya juga bakal ikut daftar tarian singa, tapi pasti saya yang duluan keluar, karena gak tahan 🙂

  2. Aku beneran takut nonton kuda lumping. Auranya mistisnya kuat banget dan sempet berkali-kali ngumpet kalau nonton kuda lumping.
    Risalah Husna recently posted…Menjejak Langkah Di Tanah SelangorMy Profile

  3. Wah.., keren mbak! Jadi pengen ikutlah rentak Selangor berikutnya. Keren ya bisa menyaksikan berbagai pertunjukkan budaya disana.

  4. Masih nggak kebayang ketika pelatihnya nampain tangannya yang patah ketika latihan barongsai. tebayang sampe sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge